..:::.. Riena Samputri ..:::..

Selasa, 16 April 2013

Hipotesis

Pengertian Hipotesis

Beberapa definisi hipotesis menurut para ahli :
  • Menurut Prof. Dr. S. Nasution (2000), hipotesis  ialah pernyataan tentative yang merupakan dugaan mengenai apa saja yang sedang kita amati dalam usaha untuk memahaminya.
  • Menurut Zimund (1997:112), hipotesis merupakan proposisi atau dugaan yang belum terbukti yang secara tentative menerangkan fakta-fakta atau fenomena tertentu dan juga merupakan jawaban yang memungkinkan terhadap suatu pertanyaan riset.
  • Menurut Kerlinger (1973:18) dan Tuckman (1982:5), hipotesis adalah sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih.
  • Menurut Sudjana (1992:219), hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya.
Berdasarkan definisi-definisi para ahli diatas, hipotesis dapat disimpulkan sebagai jawaban atau dugaan sementara yang harus diuji lagi kebenarannya

Kegunaan Hipotesis

Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan kegunaan sebagai berikut :
  1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
  4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada :
  • Pengamatan yang tajam dari peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
  • Imajinasi dan pemikiran kreatif dari peneliti.
  • Kerangka analisa yang digunakan oleh peneliti.
  • Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.
Ciri-ciri Hipotesis Yang Baik

Perumusan hipotesis yang baik harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
  2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
  3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
  4. Hipotesis harus diuji secara spesifik, yaitu menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabelnya.
  5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Macam-macam Hipotesis

Secara garis besar, hipotesis dibedakan menjadi dua  yang berdasarkan pada tingkat abstraksi dan bentuknya.

Tingkat Abstraksi :
  • Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris, yaitu hipotesis yang berkaitan dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat umum yang kebenarannya diakui oleh orang banyak pada umumnya. Contoh : “Banjir Jakarta akibat kiriman dari Bogor”. Kebenaran umum seperti di atas sudah diketahui oleh orang banyak pada umumnya, tetapi jika diuji secara ilmiah belum tentu benar.
  • Hipotesis yang berkenaan dengan model ideal : pada kenyataannya dunia ini sangat kompleks, maka untuk mempelajari kekomplesitasan dunia tersebut kita memerlukan bantuan filsafat, metode, tipe-tipe yang ada. Pengetahuan mengenai otoriterisme akan membantu kita memahami, misalnya dalam dunia kepemimpinan, hubungan ayah dalam mendidik anaknya. Pengetahuan mengenai ide nativisme akan membantu kita memahami munculnya seorang pemimpin.
  • Hipotesis yang digunakan untuk mencari hubungan antar variable. Hipotesis ini merumuskan hubungan antar dua atau lebih variabel-variabel yang diteliti. Dalam menyusun hipotesisnya, peneliti harus dapat mengetahui variabel mana yang mempengaruhi variabel lainnya sehingga variabel tersebut berubah.
Menurut bentuknya, hipotesis  dibagi menjadi tiga :
  1. Hipotesis penelitian / kerja, yaitu hipotesis yangmerupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji. Dalam hipotesis ini peneliti mengaggap benar hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian. Misalnya : Ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah pengangguran.
  2. Hipotesis operasional, yaitu hipotesis yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi  juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut hipotesis nol (H0). H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian. Contohnya, H0 : Tidak ada hubungan antara jumlah jam kerja dengan jumlah pegawai yang mengalami stress.
  3. Hipotesis statistik, yaitu jenis hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif). Misalnya,  H0: r = 0 ; atau H0 : p = 0.




Sumber referensi :

0 komentar:

Posting Komentar

Danke !